Semua Yang Diingat Akan Hilang – Dan Yang Ditulis Abadi

Kenapa Sopir Gerobak Sapi disebut ITU?

in Sejarah by

Kluntunggg..kluntungg…..kluntung…..dan kluntung lagi….(suara nyaring frekuensi tinggi yang menunjukkan kelemotan/kelambatan). Pernah dengar khan? 🙂 Mungkin diwaktu masih kecil atau dulu ketika memang masih ada. Kalau belum juga…mungkin didesa-desa tercinta masih banyak juga kog.

 

Sebagai sebuah cabang ilmu bahasa yang menelaah asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna, maka tidak diragukan jika etimologi merupakan cabang ilmu yang menarik. Tentu saja yang dimaksud dengan ‘menarik’ di sini adalah menarik bagi yang memang merasa tertarik.

Bagi yang tidak tertarik, meskipun ilmu ini tentu saja tetap menarik, etimologi dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak menarik dan membosankan. Toh kalau sudah mengetahui asal-usul sebuah kata, lalu untuk apa? Bukankah yang lebih penting dan fungsional adalah makna kata yang sekarang dan saat ini ada, berlaku dan sepertinya mengikat? Mungkin saja, tetapi semua pendapat ini tetap tidak mengubah esensi bahwa etimologi memang menarik. Simak saja contoh berikut ini.

 

Gbr. Gerobak Sapi di Surakarta Th.1930
(Sekitar tahun 90-an masih terlihat banyak di Nusukan dekat kalipepe dan lapangan tugu lilin makam haji dan saat ini sudah hilang tergantikan mesin kendaraan)

 

Sciurus notatus merupakan nama latin untuk bajing atau tupai. Apakah ‘bajingan’ berasal dari kata dasar ‘bajing’ yang mendapat akhiran ‘-an’? Jika ya, bagaimana ceritanya sehingga dari sebuah nama binatang dengan hanya diberi akhiran ‘-an’ tiba-tiba saja maknanya berubah menjadi penjahat, pencopet, atau paling tidak kata makian yang bermakna ‘kurang ajar’?

Apakah ada hubungan dengan perilaku binatang yang bersangkutan, yang sangat pandai berlari dan melompat, pandai melobangi buah kelapa dan memakan habis isinya tanpa perlu minta ijin pada pemiliknya, dan kemampuan lainnya seperti menghindar dan bersembunyi dari kejaran? Meskipun banyak yang sepakat bahwa makna sebuah kata tidak harus mempunyai korelasi yang erat dan mengikat dengan benda yang diwakili oleh makna tersebut, tetapi apakah ada hubungan yang kuat antara binatang yang bernama ‘bajing’ dan manusia yang dianggap penjahat sehingga layak diberi umpatan ‘bajingan’?

Jika memang ada, mengapa dari ‘musang’ yang ketangkasan dan kemampuannya tidak kalah dengan ‘bajing’ meskipun dengan sasaran berbeda, musang dikenal ahli mencuri ayam, tidak serta merta mempunyai makna yang setara dengan ‘bajingan’ ketika nama binatang ini diberi akhiran ‘-an’? Bahkan bukankah belum pernah ada orang memaki seseorang yang dianggap berperilaku tengik dengan mengatakan ‘musangan’? Atau ‘biawakan’? Atau ‘ularan’? Atau ‘kadalan’?

Dan seterusnya, dan seterusnya. Artinya masih banyak contoh dapat diberikan untuk mementahkan pendapat yang mengatakan bahwa makna ‘bajingan’, karena berasal dari kata ‘bajing’, mempunyai korelasi erat dengan makna kata dasarnya. Atau jangan-jangan kata ‘bajingan’ sama sekali bukan bentukan dari kata dasar ‘bajing’? Kata ini adalah kata mandiri yang diserap dari bahasa lain?

KBBI meletakkan kata ‘bajingan’ tepat di bawah kata dasar ‘bajing’ dan ini memberi kesan kuat bahwa kata ‘bajingan’ kata dasarnya adalah ‘bajing’ yang setelah mendapat akhiran ‘-an’ menjadi kata tersendiri dengan perubahan makna yang sangat dahsyat. Jenis binatang menjadi ‘penjahat atau pencopet’. Dengan argumentasi sederhana yang disampaikan sebelumnya maka jelas, atau dirasakan jelas, bahwa penyusun KBBI telah melakukan kesalahan. ‘Bajingan’ tidak ada hubungannya dengan ‘bajing’, jadi sudah selayaknya kata ini menjadi lema tersendiri karena memang tidak berasal dari ‘bajing’ yang kemudian mendapat akhiran ‘-an’.

Lalu jika kata ‘bajingan’ tidak ada hubungannya dengan binatang yang bernama ‘bajing’, dari mana kata ‘bajingan’ berasal? Salah satu teori yang sudah banyak diungkapkan orang menyatakan bahwa kata ini diserap langsung dari bahasa lain, bahasa Jawa umpamanya, tetapi kemudian mengalami pergeseran makna yang luar biasa.

Dalam sebuah buku pelajaran bahasa Jawa, seorang ibu dikisahkan pernah terperanjat membaca sebuah soal ketika putrinya yang menggunakan buku itu menanyakan sebuah soal padanya. Pertanyaan tentang profesi ‘sopir’ untuk beragam kendaraan, baik yang menggunakan mesin atau yang tidak. Nah, salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah ‘sopir atau orang yang mengendarai atau mengendalikan gerobak yang ditarik oleh sapi atau kerbau’? Kalau gerobak atau pedati yang ditarik kuda, dia tahu ‘sopirnya’ disebut ‘sais’. Kalau mobil, ya sopir. Kalau pesawat terbang ya pilot. Kalau ‘gerobak yang dihela oleh sapi atau kerbau’?

Ibu yang satu ini benar-benar terperanjat dan tidak percaya ketika satu-satunya jawaban yang tersisa adalah ‘bajingan’. Bajingan? Bagaimana bisa ‘bajingan’ yang di kepala ibu ini maknanya adalah ‘penjahat, pencoleng, bedebah, orang jahat’ dan sejenisnya, tiba-tiba berubah menjadi ‘sopir gerobak sapi’? Tidak percaya pada jawaban yang tersisa ini, sang ibu yang sebenarnya sedang asyik ngobrol dengan temannya di dunia maya dan sekarang agak terganggu karena pertanyaan putrinya, segera saja masuk ke dalam perpustakaan dunia maya. Dan apa yang ditemukannya?

Salah satu berita menyebutkan bahwa dalam rangka memperingati ulang tahun hari kemerdekaan, di kawasan Prambanan diadakan ‘kirab bajingan’ dan diikuti tidak kurang dari ‘200 bajingan’. Ternyata benar bahwa ‘bajingan’ dalam bahasa Jawa bermakna ‘pengendara gerobak sapi’. Kirabnya ternyata ‘kirab gerobak sapi’ dan tidak kurang dari ‘200 pengemudi gerobak’ berpartisipasi.

Gbr. Festival gerobak Sapi 2016

Lalu apa makna temuan – yang sebenarnya sama sekali bukan temuan baru – dari ibu ini? Adalah benar bahwa dalam bahasa Jawa salah satu makna kata ‘bajingan’ adalah sebuah sebutan untuk orang yang mengendarai dan mengendalikan gerobak atau pedati yang ditarik atau dihela oleh sapi. Tetapi bagaimana ceritanya sehingga ‘sopir gerobak sapi’ eh … di dalam KBBI tiba-tiba saja menjadi ‘penjahat atau pencopet atau kata makian yang bermakna kurang ajar’?

Tentu hal ini tidak terjadi begitu saja, bukan? Apalagi, bukankah bisa saja kata ‘bajingan’ dalam bahasa Indonesia yang dikenal sekarang ini tidak berasal dan diserap dari bahasa Jawa dengan perubahan makna yang rasional, tetapi justru berasal dari sumber yang lain dengan cerita yang lain?

Inilah yang sebenarnya harus dicari dan ditelaah, walaupun dari versi bagaimana kata ‘bajingan’ yang berasal dari bahasa Jawa, yang bermakna ‘sopir gerobak sapi’, masuk ke dalam bahasa Indonesia, telah banyak disampaikan rasional dan alasannya.

Konon kabarnya, karena dulu transportasi sulit sekali, maka banyak orang terpaksa harus mau bersabar menunggu di tepi jalan sampai ada gerobak sapi lewat dan mereka bisa membonceng atau ‘nunut’. Karena jumlah gerobak sapi tidak terlalu banyak, sementara yang mau ikut secara gratis banyak, maka tidak mengherankan jika kondisi tidak menyenangkan terjadi. Dan ini berkaitan dengan kondisi ‘permintaan banyak, persediaan sedikit’.

Gbr. Kendaraan favorit sebelum 1904 (Masuknya Mobil di Bandung)

Mereka yang berlama-lama menunggu ‘sang bajingan’ lewat seringkali menggerutu ‘lama benar nih, bajingan’ atau sejumlah keluhan lain atau bahkan bisa saja ‘makian’ yang intinya menyatakan kesal pada ‘sang bajingan’ karena terlalu lama tidak muncul-muncul. Apakah karena sebutan ini yang memang selalu disertai dengan ‘rasa jengkel dan kesal’ lalu perlahan-lahan menggeser makna ‘bajingan’ sebelum akhirnya mempunyai makna seperti yang sekarang? Mungkin saja, meskipun masukan lain, jika memang ada, tentunya patut dipertimbangkan.

 

 

Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – Poznan, Poland
https://www.kompasiana.com/tribudhis/asal-usul-kata-bajingan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest from Sejarah

Go to Top