Semua Yang Diingat Akan Hilang – Dan Yang Ditulis Abadi

literasi digital industri 40

Enam Literasi dalam Industri 4.0

in Umum by

Gerakan pendidikan adalah literasi. Literasi tak melulu soal membaca buku. Menghadapi era Industri 4.0 setidaknya ada enam literasi dasar yang wajib dikuasai. Literasi itu tidak hanya membaca buku. Benar sekali! melalui membaca, seseorang akan memiliki perspektif baru. Kemudian, muncullah karya. Dan itu berlangsung terus menerus sepanjang hayat. Tanpa melupakan dan selalu memperhatikan literasi.

Pada masa awal kemerdekaan 97% penduduk Indonesia masih buta aksara. Namun, sekarang sudah lebih dari 98% masyarakat Indonesia melek aksara. Pendidikan dasar generasi mendatang adalah sangat penting untuk menyongsong era abad 21 dengan visi bangsa : Mempersiapkan generasi emas tahun2045 sanggup dan mampu berperan produktif kreatif era Industri 4.0.

Setidaknya ada enam literasi dasar yang harus dimengerti dan dikuasai masyarakat generasi ini. Literasi dasar tersebut berperan sangatpenting dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari. Berikut enam literasi dasar dirangkum dari Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud.

1. Literasi Baca Tulis
Literasi baca tulis merupakan hal dasar. Ini meliputi kemampuan untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersirat maupun tersurat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan serta potensi diri. Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud melakukan penelitian pada lebih dari 6.500 siswa SMA. Hasilnya, kemampuan siswa Indonesia dalam literasi cukup bagus. Rata-rata nilai membaca siswa Indonesia yang berumur 15 tahun yaitu 397. Rata-rata tersebut berada di bawah negara Peru yang memiliki rata-rata 398.

Sedangkan, penelitian PISA dengan sampel seluruh provinsi di Indonesia, rata-rata nilai membacanya 489. Angka tersebut cukup bagus untuk rata-rata membaca siswa. Hasilnya [penelitian PISA], dari interval 200-800, rata-ratanya 489. Artinya, tingkat kemampuan anak Indonesia 61%. Sampel diambil dari seluruh provinsi. Tiap provinsi diambil dua kabupaten [perdesaan dan perkotaan]. Dalam satu kabupaten diambil sepuluh sekolah. Jadi, jumlahnya 289 sekolah.

2. Literasi Numerasi
Literasi dasar berikutnya adalah numerasi. Numerasi dan matematika merupakan dua hal yang berbeda. Perbedaan terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan matematika saja tak membuat seseorang memiliki numerasi. Namun, numerasi mencakup aplikasi konsep dan kaidah matematika dalam situasi nyata. Sebagian siswa di Indonesia menganggap matematika sulit untuk dipelajari dan dimengerti.

Menurut penelitian pada 2010 oleh Guru Besar Matematika Universitas Gadjah Mada, Widodo, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan matematika dianggap sulit. Pertama, faktor buku, tak banyak ihwal matematika terbitan Indonesia menyajikan soal dalam bentuk konteks. Hasilnya, matematika terasa abstrak dan sulit dipelajari. Alasan kedua, 11,35% guru matematika tak memiliki kompetensi pengajaran yang memadai. Sehingga, saat siswa bertanya, guru tidak mampu menjawab. Ketiga, pola pikir (mindset) bahwa matematika itu sulit. Mindset tersebut telah ditanamkan sejak kecil. Akibatnya, mucul persepsi dan perilaku bahwa matematika sulit dan tidak menyenangkan. Masalah dasar di atas dapat diatasi dengan menguatkan keterampilan literasi numerasi. Oleh karena itu, penting untuk mendorong keterampilan numerasi siswa.

3. Literasi Sains
Literasi sains mencakup kecakapan memahami fenomena alam dan sosial di sekitar kita termasuk hal dasar yang wajib dikuasai. Selain itu, juga mencakup kecakapan mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah. Literasi sains penting untuk menghadapi tantangan abad ke 21. Wujud pembinaan literasi sains di Indonesia salah satunya Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan event-event kompetisi sejenisnya.

4. Literasi Finansial
Bagi sebagian orang literasi finansial mungkin dianggap belum terlalu penting. Padahal literasi ini saalh satu hal dasar yang penting di era kini. Literasi finansial mencakup pengetahuan dan kecakapan mengaplikasikan pemahaman konsep, risiko, keterampilan, dan motivasi dalam konteks finansial. Hal ini penting untuk mendidik masyarakat agar sadar dan paham pengelolaan keuangan secara bijak serta sesuai kebutuhan. Sudah banyak aplikasi atau website yang bisa memberikan panduan dalam literasi finansial.

5. Literasi Digital
Literasi digital merupakan kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk mendapat informasi serta berkomunikasi. Kini literasi digital berperan penting dan menjadi masalah dasar dalam kehidupan. Hal itu membuat masyarakat mampu berkomunikasi lancar dengan lebih banyak orang. Era keterbukaan informasi dan banjir informasi menjadikan masyarakat harus melek terhadap dunia digital. Banyak sisi positif, namun ada juga sisi negatif seperti hoaks, fintah, hingga ujaran kebencian.

6. Literasi Kebudayaan dan Kewargaan
Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sedangkan, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Upaya meningkatkan literasi budaya penting untuk menghadapi kuatnya arus budaya global. Sedangkan literasi kewarganegaraan diperlukan untuk mendorong pemerataan masyarakat dalam wawasan kebangsaan. Kuncinya adalah akses. Perluasan dan pemerataan akses. Maka arah kebijakan peningkatap literasi budaya dan kewarganegaraan pun harus didorong untuk memperluas serta meratakan akses publik terhadap keanekaragaman budaya dan kesatuan imajinasi kebangsaan.

Gerakan literasi dasar sampai tingkat nasional tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat agar berwawasan luas. Penguasaan enam literasi dasar sangat penting untuk mengahadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Enam gerakan literasi dasar di atas merupakan salah satu gerakan Kemendikbud untuk menuntaskan buta aksara. Tak bisa dimungkiri masih ada sebagian warga Indonesia yang belum melek huruf.

Salah satu parameter yang bisa digunakan adalah angka melek huruf (AMH) yang menggambarkan persentase penduduk yang mampu membaca sekaligus menulis. Tulisan tersebut minimal kalimat sederhana yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut data Statistik Pendidikan 2017, pencapaian AMH tertinggi ada pada umur 15 tahun-24 tahun (99,66%). Sementara itu, pada kelompok umur 15 tahun ke atas, memiliki capaian paling rendah. Sebaran AMH 2017 menurut provinsi, rata-rata sembilan dari sepuluh penduduk di masing-masing provinsi sudah melek huruf. Hal itu terjadi di beberapa provinsi, kecuali di Papua. Pada kelompok umur 15 tahun-59 tahun dan 15 tahun ke atas, angka melek huruf lebih rendah. Hal itu terjadi khususnya di Papua perdesaan yang rata-rata baru enam dari sepuluh penduduknya melek huruf.

Menurut data statistik pendidikan 2018, pencapaian AMH tertinggi berdasarkan umur, tetap pada kelompok 15 tahun—24 tahun (99,71%). AMH 15 tahun ke atas juga mengalami peningkatan 0,16% dibandingkan pada 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest from Umum

Go to Top