Semua Yang Diingat Akan Hilang – Dan Yang Ditulis Abadi

paku alam jogjakarta

Kapan Legiun Paku Alam (1892) dibubarkan?

in Sejarah by

Legiun Pakualaman adalah korps angkatan bersenjata Kadipaten Paku Alaman yang dibentuk pada tahun 1813, yaitu pada zaman Paku Alam I bertahta. Pasukan ini awalnya dibentuk selain sebagai lambang kebanggaan dari kadipaten yang baru terbentuk itu, tetapi juga sebagai pasukan cadangan bagi pemerintah kolonial Inggris, dan juga Belanda.

Pada 20 Maret 1883 P.A.A. Prabu Suryo Dilogo resmi menyandang gelar Paku Alam V dengan pangkat kolonel. Di samping itu, Paku Alam V juga dianugerahi medali “Ridderkruis van den (Orde van) Nederlandschen Leeuw (Salib Kesatria dari Ordo Singa Belanda)”.

Ridder Grootkruis in de Orde van de Nederlandse Leeuw | Onderscheidingen |  Koninklijke onderscheidingen
Ridder Grootkruis in de Orde van de Nederlandse Leeuw

Sayangnya, pada 1892 korps bersenjata Legiun Paku Alam yang pada 1870 dimekarkan menjadi separo batalion infanteri dan kompeni kavaleri secara resmi dihapuskan.

Tidak dapat dipungkiri demiliterisasi ini mengecewakan Paku Alam V dan dari beberapa segi juga mengurangi kewibawaan istana Pakualaman. Pada dasarnya Paku Alam V menaruh perhatian besar terhadap eksistensi legiun.

Pengeluaran sehari-hari anggota legiun berasal dari kas Kadipaten Pakualaman, walaupun gaji para opsir masih berasal dari Pemerintah Kolonial Belanda. Paku Alam V juga mengupayakan hiburan untuk prajurit legiun setelah mereka suntuk berlatih setiap hari.

Di pelataran timur Puro Pakualaman acapkali diselenggarakan pertunjukan janggrung, sejenis tayub untuk menghibur mereka. (Ringkesaning Wawaton, t.t.: 17).

Pembubaran Legiun Pakualaman sama sekali tidak dibayangkan oleh para anggota legiun. Pada hari pembubaran yang masih dirahasiakan mereka mendapatkan perintah dari komandan legiun untuk membawa senjata dengan segenap perlengkapannya ke Puro Pakualaman karena akan diganti dengan senjata dan perlengkapan yang baru.

Para anggota legiun datang ke puro dengan suka cita. Namun, mereka mendadak berubah menjadi sedih karena mereka baru mengetahui bahwa pada saat itu legiun dibubarkan. Para anggota legiun tersebut ditawari untuk bergabung dengan Tentara Hindia Belanda (Nederland Indische Leger).

Akan tetapi, tidak semua prajurit dapat memanfaatkan kesempatan itu.Hanya prajurit muda yang masih sehat dan gagahlah yang dapat memenuhi tawaran itu. Sebagian yang lain, terutama yang sudah tidak muda lagi terpaksa menerima nasib. Semua opsir sepakat tidak memanfaatkan peluang menjadi anggota NIL.

Mereka memilih mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Mereka tetap diizinkan mengenakan seragam legiun sesuai dengan pangkatnya masing-masing jika diperlukan. Kepada para opsir itu kemudian diberikan sejumlah kompensasi (Ringkesaning Wawaton, t.t.: 20).

Suasana Puro Pakualaman setelah pembubaran legiun menjadi sunyi dan lengang. Biasanya terdengar bunyi tambur yang dipalu dengan bersemangat dan terompet yang melengking dengan gagah. Di samping itu, tidak terlihat lagi prajurit yang berlatih dengan bersemangat. Kampung-kampung di sekitar puro juga terasa sepi (Ringkesaning Wewaton, t.t.: 20).

Gerbang utama sekarang tidak lagi dijaga oleh anggota legiun, tetapi hanya penjaga yang membawa tombak. Itupun tidak berlangsung lama. Para prajurit yang tidak bergabung dengan NIL ditawari menjadi abdi dalem punakawan. Prajurit yang berasal dari unsur kerabat adipati diposisikan sebagai penjaga keamanan dengan mendapatkan belanja seadanya dari kadipaten. Sementara itu, para opsir didudukkan sebagai abdi dalem dengan pangkat wedana (Ringkesaning Wawaton, t.t.: 20).

Adapun 2 bregada legiun Pakualaman yang dipertahankan adalah Bregada Plankir dan Bregada Lombok Abang. Mereka berganti tugas jaga setiap 35 hari sekali. Dimana setiap pergantian jaga diadakan seremoni di Pura Pakualaman hingga hari ini.

Sumber : paper “Paku Alam V, Sang Aristo modernis dari timur”.Sudibyo, Sastra Nusantara FIB, UGM Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul Westernisasi dan Paradoks Kebudayaan yang dilakukan bersama dengan Sri Margana, Sri Ratna Saktimulya, Mutiah Amini, dan Baha’udin Unit Penelitian Fakultas Ilmu Budaya UGM pada Tahun Anggaran 2013

"SUKALAH Menolong...Pasti Allah akan Menolongmu.." Telp/SMS/WA 0858-7903-7920 | 0818-43-82-89 Mail : yuda@mipa.uns.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Sejarah

Kenapa Sopir Gerobak Sapi disebut ITU?

Kluntunggg..kluntungg…..kluntung…..dan kluntung lagi….(suara nyaring frekuensi tinggi yang menunjukkan kelemotan/kelambatan). Pernah dengar khan?
Go to Top