yyudhanto on Sejarah
29 Sep 2026 12:59 - 3 minutes reading

Sejarah Sonolayu Boyolali

Di sebelah selatan Stadion Pandan Arang Boyolali terdapat kompleks permakaman umum bernama Sonolayu. Makam yang berlokasi di Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali, itu ternyata sudah cukup tua, tepatnya berusia 100-an tahun atau satu abad pada 2026 ini. Pegiat sejarah Boyolali, Muhammad Faiz, mengungkapkan makam Sonolayu telah ada sejak zaman Belanda. Dalam koran De Locomotief terbitan 17 Mei 1927 tertulis di sebelah selatan stasiun kereta api Boyolali milik Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij (NIS) atau perusahaan kereta api swasta Belanda terdapat makam bernama Sonolayu.

“Dari koran De Locomotief 17/05/1927, ada cerita pada 1924, Pemerintah Kasunanan Surakarta mendirikan permakaman umum di Kota Boyolali, di sebelah stasiun NIS. Namanya Sonolayu, sono kan tempat, layu ya lelayu,” kata alumnus Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dengan begitu, Faiz mengungkapkan Makam Sonolayu yang kini berada dekat Stadion Pandan Arang Boyolali tepat berusia 100 tahun pada 2024 ini. Dulu, lanjut Faiz, lokasi makam Sonolayu sama dengan lokasi saat ini.

Hanya, lokasinya tidak seluas sekarang. Pada waktu itu, permakaman Sonolayu digunakan untuk memakamkan orang-orang yang tinggal di sisi selatan Kawedanan Boyolali.

Peristiwa G30S/PKI

Makam Sonolayu juga saat itu telah ada di sisi timur Taman Makam Pahlawan Ratna Negara. “Tapi nama Sonolayu memang legend karena dipakai untuk semua nama tempat di sana. Contoh Pasar Sonolayu, Stadion Sonolayu, walaupun namanya Pandan Arang ya, dulu sebelum stadion kan lapangan Sonolayu,” kata dia.

Edi yang juga warga asli Siswodipuran menceritakan di makam Sonolayu dekat Stadion Pandan Arang Boyolali juga pernah terjadi peristiwa bersejarah terkait dengan Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI) tahun 1965. Berdasarkan cerita yang ia dapat dari pada orang-orang tua, pada saat itu sisi selatan Sonolayu digunakan untuk mengeksekusi orang-orang yang terindikasi tergabung dalam gerakan tersebut pada 1965 oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Termasuk juga Bupati Boyolali (1958-1965) yang pro-pki waktu itu bernama Suali Dwijosukanto juga dikubur di Sonolayu. Suali terpilih menjadi Bupati Boyolali ketiga pada 1958, menggantikan Bupati sebelumnya, M Sastro Handjojo (1951-1958).

Beberapa tahanan yang dieksekusi sebelumnya ditaruh di lokasi yang saat ini menjadi gerai KFC Boyolali dan jauh sebelumnya adalah bioskop Boyolali Theater. Setelah itu, mereka dibawa ke Sonolayu untuk dieksekusi.

Ada ratusan orang yang dieksekusi di sana dan dikubur secara massal. Tidak ada nisan khusus terkait hal tersebut. Namun, ia menyebut ada batu penanda yang digunakan untuk menandai kuburan massal.

Sonolayu memang unik, sebagai lintasan jalur utama dari Solo menuju Jakarta. Disana juga berdiri gagah Markas Kompi Senapan B Yonif 408/Suhbrastha. Berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, salah satu akses penting di wilayah Boyolali. Dulu ketika masih belum menjadi stadion, sering diadakan turnamen-turnamen sepak bola lokal yang diikuti klub lokal ternama seperti PS Elang Muda dan PS Basunanda. Keberadaan tentara disekitarnya membuat event berlangsung aman, kalaupun ada tawuran maka bakal mudah diredam.

Lapangan Sonolayu sangat khas karena waktu itu dikelilingi banyak sekali pohon cemara yang besar dan tertata rapi. Tak semua menjadi lapangan bola. Ada yang dipakai untuk menjemur tembakau. Dan sering di malam hari tahun 90-an adanya hiburan rakyat layar tancap.

Lapangan ini juga menjadi start ketika pawai karnaval kemerdekaan tingkat kabupaten yang berfinish di lapangan Sunggingan, kira-kira 8 Km. Dan disetiap upacara setingkat kabupaten juga dilaksanakan disini. Sampai hari ini masih ada warung makan legend dengan menu khas Nasi Kare di pojok lapangan/stadion.

Bangunan lama yang masih terlihat adalah Gereja GKJ. Dulu disampingnya adalah kawasan abu-abu kota Boyolali apalagi ketika masih menjamur judi Porkas di jaman orde baru. Pernah juga direvitalisasi menjadi Pasar Kayu, khusus menjual kayu. Diera 90-an disini juga sering digunakan untuk manggung kethoprak Sonobudoyo.

Semoga kawasan Sonolayu semakin maju dan berbenah menjadi Internasional di era Ai saat ini. Dan kebetulan penulis juga pernah tinggal di Siswodipuran (Sekitar Sonolayu). Boyolali Tersenyum!

yudho yudhanto uns solo
yudho yudhanto kompas com
yudho yudhanto dirjen vokasi
yudho yudhantookezone
yudho yudhanto inews
yudho yudhanto tribunews

Arsip:

_____

Kategori: