yyudhanto on Sejarah
3 Apr 2023 15:27 - 6 minutes reading

Foto Lawas Solo (Surakarta)

Sejarah Kota Solo bisa dibagi menjadi beberapa periode. Jika dirunut hingga zaman kuno, maka sejarah Kota Solo dimulai dari era manusia purba Homo erectus yang fosilnya ditemukan di Sangiran, Kabupaten Sragen. Namun pada umumnya sejarah Kota Solo diceritakan berawal dari sebuah desa terpencil nan tenang hingga tahun 1744 silam. Kisah Solo dimulai ketika ditunjuk sebagai pengganti ibukota katasura, sehingga keraton yang sudah hancur tak perlu dibangun lagi dikarenakan dipindah ke daerah baru.

Dalam buku Babad Sala (1984) yang ditulis RM Sajid disebutkan bahwa Pakubwono II berangkat dari Kartasura naik kereta Kyai Garudha. Turut mengiringi pula sejumlah pejabat, termasuk perwakilan Belanda, Baron van Hohendorff.

Pasar Gede Solo th 1930

Pasar Gede Solo th 1930

Sejumlah pusaka yang masih tersisa pun dibawa. Bahkan, pohon beringin juga turut dibawa untuk ditanam di Alun-alun. Selama perjalanan ke timur sejauh 10 km itu, sejumlah abdidalem menabuh gamelan. Tiba di lokasi, Pakubuwono II pun menyatakan bahwa Desa Sala diubah menjadi nagari Surakarta Hadiningrat.

Wilayah Vorstenlanden (Swapraja) pada tahun 1939.

All reactions:

126Kandar Jajanowae and 125 others

Pasar Gede Solo th 1937

Pasar Gede Solo th 1937

Pasar Gede Solo th 1920

Pasar Gede Solo th 1920

Dalam aturan baca tulis dengan Huruf Jawa, tulisan Sala itu dibaca Solo (seperti saat kita mengucapkan kata ‘lontong’). Hingga saat ini masih banyak yang menuliskan Kota Solo dengan aturan penulisan Aksara Jawa, yaitu Kota Sala.

Balaikota Solo, Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan dan Hotel Rusche

Kwan Jia (kereta lelayu) dari perkumpulan Hiang Gie di sebuah prosesi pemakaman Tionghoa, Surakarta, sekitar tahun 1910-1940. ðŸ“· Drukkerij Siang Hak In Kwan/KITLV (Posisi : Depan Hotel TRIO, pasar gede)

Hanya saja, cara baca Kota Solo itu ternyata sulit diucapkan oleh kolonial Belanda pada saat itu. Mereka membaca Solo seperti saat kita mengucapkan ‘toko’. Penyebutan ala orang Belanda itu kini justru menjadi lebih populer.

Brikut ini adalah Foto-foto Lawas Solo ini bersumber dari : (https://collectie.wereldculturen.nl/)

 Gerbang kehormatan Kraton Solo, pada pesta penobatan (Eere-poort voor de Kraton te Solo, bij de kroningsfeesten)
Gerbang kehormatan Kraton Solo, pada pesta penobatan (Eere-poort voor de Kraton te Solo, bij de kroningsfeesten)
 Gadis Solo kembali dari pasar – 1935 (Solo; meisje terugkomende van pasar. Midden Java)
Gadis Solo kembali dari pasar – 1935 (Solo; meisje terugkomende van pasar. Midden Java)
 Wanita tua di Solo, 1935 (Portret van een oude vrouw)
Wanita tua di Solo, 1935 (Portret van een oude vrouw)
 Anak Kecil di Solo, 1904 (Kleine kinderen. Birit. Soerakarta.)
Anak Kecil di Solo, 1904 (Kleine kinderen. Birit. Soerakarta.)
 Prajurit pribumi minum teh di aloen-aloen di Solo di garebeg. 1/1/1903.  (Thee-drinkende voorname Inlanders op de aloen-aloen in Solo bij de  garebeg. 1/1/190)
Prajurit pribumi minum teh di aloen-aloen di Solo di garebeg. 1/1/1903. (Thee-drinkende voorname Inlanders op de aloen-aloen in Solo bij de garebeg. 1/1/190)
 Mengangkut daun pandan dan arang, Solo 1941 (In grote draadmanden worden de bladeren van pandan en arang vervoerd in Solo)
Mengangkut daun pandan dan arang, Solo 1941 (In grote draadmanden worden de bladeren van pandan en arang vervoerd in Solo)
Pabrik Es Saripetojo berdiri 1888 oleh Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM) di Poerwsariweg
NIEUW BIOSCOOP adalah gedung bioskop di Solo yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda di awal abad 20. Pasca kemerdekaan, tepatnya sejak tanggal 27 Desember 1951 gedung ini digunakan untuk gedung bioskop Dhady Theatre hingga dekade 90an
Hotel Rusche yang terletak di gladag ini adalah sebuah penginapan dengan kapasitas 36 kamar. Pada November 1903, hotel ini mengalami renovasi yang signifikan, meningkatkan kapasitasnya menjadi 52 kamar lengkap dengan penerangan listrik, service makan, dan bahkan garasi untuk 4 mobil.
Hotel Rusche didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Albert Rusche, seorang pengusaha Belanda yang memiliki banyak usaha di Solo. Usahanya diawali dari percetakan dan penerbitan (drukkerij) Albert Rusche & Co., kemudian merambah ke perhotelan, properti (onroerend goed), dan perdagangan ekspor impor.
Albert Rusche lahir di Amsterdam pada 28 Juli 1851 dari pasangan Roelof Rusche dan Alberta Wilhelmina Rusche. Ia menikah dengan Diena Jansen pada tahun 1884 di Bogor. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai 11 anak: Bertha de Wilde, Willem, Jootje, Annie, Albert, Alex, Theo, Dina, Albert Alwin Rusche, Adolph Heinrich Christian Rusche, dan Joopie.
Raja Chulalongkorn dari Siam (kini Thailand) pernah menginap di hotel ini ketika mengunjungi Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran. 
Hotel Rusche memiliki dua lantai, dan di atas teras depan (voor galerij) terlihat balkon untuk melihat pemandangan yang ada di depan hotel. 
Gaya arsitektur bangunan hotel ini pada situasi perkembangan arsitektur pada akhir abad ke 19 di Hindia Belanda, yaitu gaya arsitektur transisi. Pada umumnya arsitektur transisi ini mempunyai bentuk denah yang hampir mirip dengan arsitektur Indische Empire. Hal yang membuat arsitektur peralihan terlihat berbeda dengan Indische Empire adalah tidak adanya pilar bergaya Yunani atau Romawi sebagai ciri khasnya.
Hotel Rusche sekarang sudah tidak ada lagi. kemudian pernah dibangun Bank Harapan Santosa (BHS) Gladag, selanjutnya menjadi bangunan The Royal Surakarta Heritage, sebuah hotel bintang lima  yang memiliki 150 kamar.

Hotel Rusche didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Albert Rusche, seorang pengusaha Belanda yang memiliki banyak usaha di Solo. Usahanya diawali dari percetakan dan penerbitan (drukkerij) Albert Rusche & Co., kemudian merambah ke perhotelan, properti (onroerend goed), dan perdagangan ekspor impor.

Bioskop UP (Ura Patria) theatre th 1950 an dengan film the frogmen

 Rumah Potong Hewan Jagalan, Surakarta, 1916  (Abattoir te Solo)
Rumah Potong Hewan Jagalan, Surakarta, 1916  (Abattoir te Solo)

Potret Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat (paling kanan) bersama dengan para dokter dan pelayan rumah sakit Kadipala Surakarta sekitar tahun 1915.

Taman Sriwedari Taman Raja Surakarta

Perayaan Sekaten di Taman Sriwedari (27.09.1940)

Gerbang Kraton Susuhunan Solo, 1900 (Poort van de kraton van de Susuhunan van Solo)

Rumah Sakit “Sikensoro” yang berasal dari kata Ziekenzorg dibawah Vereeninging voor Zieken verpleging in Nederlandsche-Indië (VZNI) tahun 1907. Namanya berubah menjadi Bale Kusolo dibawah pimpinan direktur R. Soemarno th 1947 dan menjadi RSUD Moewardi pada 1 Januari 1950 hingga hari ini, dan berlokasi di Jebres, Surakarta.

 Susuhunan bersama kereta emasnya, 1904 (De soesoehoenan van Soerakarta in zijn gouden koets, Java)
Susuhunan bersama kereta emasnya, 1904 (De soesoehoenan van Soerakarta in zijn gouden koets, Java)
 Penjual Tembikar ke pasar, 1940
Penjual Tembikar ke pasar, 1940
Gapura batas timur Kota Solo di Jurug 1925. (Dok KITLV)
Pasar gede tahun 1979

Pasar Gede tahun 1979

Penampakan Bengkel Quick (PT. Quick Motors) tahun 1973. Sekarang adalah pertigaan CIMB Niaga/Lippo Slamet Riyadi (depan Griya Batari)

Gbr. Anak dari Kepanduan dalam PON pertama 1948 di Solo (Lokasi : Beringin Sriwedari)

Toko M.Roemain di Keprabon Solo. Agen Rokok Bal Tiga produksi oleh pabrik M. Nitisemito Kudus (1922-1940).

Penduduk naik kereta dari Purwosari ke Solo untuk melihat acara gerebeg (Een vertrekkende trein op het station van Poerwosari richting Soerakarta ter gelegenheid van de Garebeg Moeloed)
Penduduk naik kereta dari Purwosari ke Solo untuk melihat acara gerebeg (Een vertrekkende trein op het station van Poerwosari richting Soerakarta ter gelegenheid van de Garebeg Moeloed)
Stasiun Poerwosarie Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda, Soerakarta Residence, 1921 (Stasiun Purwosari Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda, Soerakarta Residence)
Stasiun Poerwosarie Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda, Soerakarta Residence, 1921 (Stasiun Purwosari Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda, Soerakarta Residence)
Jalur Kereta Api dari Boyolali – Kartasura – Solo – Wonogiri tahun 1935
Stasiun Gawok tahun 1910
Stasiun Gawok tahun 1910

Keraton Mangkunegaran th 1928

Gambar Klenteng Cina di Solo, th 1901
Stasiun Jebres, th.1906
Bupati Blitar bersama para transmigran dari kotanya naik kereta menuju Solo, tempat mengantar mereka, 1940 (De regent van Blitar met transmigranten uit zijn stad in de trein naar Solo, tot waar hij ze uitgeleide doet)
Versorgingsgesticht (sekarang gedung Djoeang 45) di Gladag – Surakarta circa 1890 (sumber : KITLV – Leiden)

BOYOLALI (BOJOLALI)

 Toko roti kroepoek di jalan utama menuju Bojolali, 1918 (Kroepoek bakker aan de grote weg naar Bojolali)
Toko roti kroepoek di jalan utama menuju Bojolali, 1918 (Kroepoek bakker aan de grote weg naar Bojolali)
Gambar Mengangkut hasel panen (1940)
 dr. Radjiman dan Mr Koperberg di Hotel Slier, Solo, 09-1920 - (Gezelschap met Dr. Radjiman en de heer Koperberg in Hotel Slier, Solo)
dr. Radjiman dan Mr Koperberg di Hotel Slier, Solo, 09-1920 – (Gezelschap met Dr. Radjiman en de heer Koperberg in Hotel Slier, Solo)
 Seorang pejabat senior berjalan bergandengan tangan dengan Pakubuwono X setelah tiba dengan mobil di kraton, 1910 (Een hoge ambtenaar loopt gearmd met de Susuhunan van Solo na aankomst met de auto bij de kraton)
Seorang pejabat senior berjalan bergandengan tangan dengan Pakubuwono X setelah tiba dengan mobil di kraton, 1910 (Een hoge ambtenaar loopt gearmd met de Susuhunan van Solo na aankomst met de auto bij de kraton)
Dua abdi dalem Keraton Surakarta th.1885
 Masjid di Solo, 1900 - (Moskee in Solo)
Masjid di Solo, 1900 – (Moskee in Solo)
Prajurit Kraton Surakarta di depan Bangsal Smarakata, Pelataran Sri Manganti, Keraton Kasunanan Surakarta (Perpustakaan Universiteit Leiden)

Ketika Solo dilanda banjir di tahun 1905, foto-fotonya menjadi motif dari kartu pos untuk dikirim ke warga Belanda lainnya.

Koleksi Kota Solo dilanda banjir di tahun 1905

Tampak cetakan stempel pos masih terlihat, di bagian kiri atas malah masih terbaca kantor pengirimnya: (SUR)AKARTA (terbalik).Keterangan di kartu pos menunjukkan wilayah yang terkena banjir: belakang benteng, area Purbayan, kawasan Capkauking, perempatan Warung Pelem, dan Kampung Balong.

Agen Penjualan Mobil “Ford” cabang Solo Tahun 1920-an (Kawasan Mesen)

Sasana Suka, Societeit Mangkoenegaran (kini menjadi Monumen Pers Nasional) sekitar tahun 1950-an.

Awalnya adalah Sasana Soeka (Mangkoenagaransche Societeit, 1918) oleh arsitek Mas Abukassan Atmodirono 1860-1920. Kemudian menjadi Gedung PMI Ngesus th 1966. Dan Sekarang menjadi Monumen Pers
Pernah menjadi tempat pengungsian banjir Solo th 1966
Gedung Balaikota Solo lawas sebelum terbakar/dibakar

Vonstenlanden Surakarta juga memiliki Cota Blunda atau Kota Belanda, kompleks hunian bagi warga Belanda atau Eropa yang bertempat tinggal di kota raja. Jejak kota mini itu masih dapat ditemui hingga saat ini, meski sebagian hilang terdesak pembangunan pada era lebih modern. Cota Blunda tersebut salah satunya adalah kampung lawas bernama Loji Wetan. Terletak di Kelurahan Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, tidak jauh dari lokasi Pasar Gedhe Hardjonagoro tepatnya di sebelah timur Benteng Vastenburg.

Suasana Cota Blunda
Poeraweg atau Ngarsopuro (Depan Mangkunegaran) th 1936
Militer Jepang 1942 mengunjungi Keraton Surakarta
(Zwembad) Kolam Renang Tirtomoyo Jebress (1932)
Gedung Societeit Habiprojo “bondo loemaksi 1826” (Daerah Singosaren, Solo)
Nomor 17-18-19 Dulunya Kampus Mesen Vokasi UNS adalah Holland Chinese School atau beberapa menyebut sekolah Chinmi
De Europese begraafplaats te Solo -   Pemakaman Eropa Solo th 1940

Gbr. Mementor Mori, Kuburan Eropa di Solo dan sekarang menjadi SMAN 3 Surakarta

Makam Memento Mori Solo sekarang jadi SMA 3 Surakarta

Semoga foto-foto lawas ini bermanfaat menjadi penyemangat. Aamin

yudho yudhanto uns solo
yudho yudhanto kompas com
yudho yudhanto dirjen vokasi
yudho yudhantookezone
yudho yudhanto inews
yudho yudhanto tribunews

Arsip:

_____

Kategori: