yyudhanto on Motivasi Psikologi
27 Dec 2025 03:29 - 4 minutes reading

Harus Sesuai “Passion”?

Follow your passion – Nasihat ini sangat populer di Generasi Z dan generasi kerja saat ini. Passion sering dianggap sebagai kunci kebahagiaan, kompas karier, bahkan penentu makna hidup. Tak sedikit orang rela berpindah-pindah pekerjaan demi menemukan pekerjaan yang “sesuai passion”, seolah passion adalah jawaban atas semua kebingungan hidup profesional.

Passion adalah rasa cinta, ketertarikan, atau antusiasme yang kuat terhadap suatu aktivitas, bidang, atau tujuan, yang mendorong seseorang untuk terus melakukannya dengan penuh energi, komitmen, dan kepuasan pribadi—bahkan ketika menghadapi tantangan.

Passion bukan sekadar minat biasa; ia melibatkan dorongan emosional yang mendalam dan sering kali mempengaruhi pilihan karier, tujuan hidup, dan kesejahteraan psikologis seseorang.

Variasi definisi dari berbagai sumber :
1) Passion adalah motivasi kuat yang mengarah pada kegiatan yang dianggap penting dan menyenangkan, sehingga individu cenderung melibatkan diri secara intensif dalam aktivitas tersebut.(*Sumber: Vallerand et al., 2003 – Journal of Personality and Social Psychology, Robert Vallerand). 👉 Fokus pada: motivasi internal + keterlibatan berkelanjutan

2) Passion didefinisikan sebagai perasaan kuat yang intens, seperti antusiasme atau gairah terhadap sesuatu. (Sumber: Oxford Languages / Dictionary.com). 👉 Fokus pada: emosi kuat

3) Passion adalah perasaan kuat tentang sesuatu atau seseorang – misalnya gairah terhadap pekerjaan, hobi, atau tujuan hidup itu sendiri. (Sumber: Cambridge Dictionary) 👉 Fokus pada: emosi + keterlibatan

4) Duckworth mengartikan passion sebagai bagian dari grit: kecintaan yang konsisten dan jangka panjang terhadap tujuan tertentu—bukan sekadar ketertarikan sesaat. (Sumber: Grit: The Power of Passion and Perseverance, Angela Duckworth) 👉 Fokus pada: konsistensi & durasi jangka panjang

Secara umum, passion dapat dipahami sebagai: “Dorongan emosional yang kuat dan konsisten terhadap suatu aktivitas atau tujuan, yang membuat seseorang terlibat secara intens dan bertahan dalam jangka panjang walau menghadapi tantangan.”

Namun, apakah passion selalu membawa kebaikan?

Passion sebagai Sumber Energi

Kisah Ryan Seacrest dan Brian Murphy sering dijadikan contoh bagaimana passion dapat menjadi kekuatan luar biasa. Ryan, yang memiliki passion di dunia hiburan, menapaki karier dengan semangat, kompetisi, dan idealisme. Sementara Brian Murphy, pendiri Living Prana, mengikuti passion-nya pada makanan sehat dan hidup holistik, meski harus melepas stabilitas finansial di awal.

Passion memberi energi, ketekunan, dan daya tahan. Ia membuat seseorang rela berjuang lebih lama, bekerja lebih keras, dan bertahan di tengah ketidakpastian. Dalam banyak kasus, passion adalah bahan bakar utama untuk inovasi dan kreativitas.

Ketika Passion Menjadi Jebakan

Namun, passion juga memiliki sisi gelap. Elon Musk sering dijadikan simbol passion tanpa batas. Dari Tesla hingga SpaceX, keberaniannya mengubah industri tidak diragukan. Tetapi passion yang sama juga kerap menjerumuskannya ke dalam overconfidence: janji-janji ambisius seperti cybertruck anti peluru atau full self-driving yang terus tertunda. Passion membuat seseorang yakin berlebihan, bahkan ketika realitas teknis belum siap. Guys, passion yang tidak terkontrol bisa:

  • Mengaburkan data dan realitas
  • Membuat seseorang mengabaikan batas kemampuan
  • Menyebabkan kelelahan, frustrasi, bahkan kehilangan arah
  • Menjadikannya alasan pelemahan

Alih-alih menjadi kekuatan, passion berubah menjadi jebakan emosional. Jika dilihat dari POV ketidaksabaran tanpa batas.

Dua Perspektif tentang Passion di Dunia Kerja

Penelitian Harvard Business School terhadap lebih dari 200 juta iklan lowongan kerja menunjukkan perubahan menarik: penggunaan kata passion menurun drastis dalam dua dekade terakhir. Dunia kerja semakin rasional, menuntut kompetensi dan hasil, bukan sekadar semangat.

  1. Bagi karyawan, passion sering dimaknai sebagai panggilan hidup, sesuatu yang memberi makna personal.
  2. Bagi perusahaan, passion kerap diterjemahkan sebagai alat motivasi: “kerjakan apa yang kamu cintai,” yang tanpa disadari dapat mendorong eksploitasi tenaga dan waktu.

Inilah paradoksnya: passion yang seharusnya memberi energi, justru bisa mengurasnya.

Mengelola Passion, Bukan Memujanya

Passion bukanlah sesuatu yang salah, tetapi ia perlu dikelola. Pemimpin yang bijak tidak menuntut passion berlebihan tanpa jeda. Mereka menyediakan ruang istirahat, evaluasi, dan batas yang sehat. Karyawan yang terlalu passionate sering kali bekerja melampaui kapasitasnya, sulit berkata “tidak”, dan akhirnya kelelahan.

Passion juga bukan satu-satunya syarat makna hidup. Kompetensi, pelatihan, mentoring, dan struktur yang baik sama pentingnya. Tanpa itu, passion hanya menjadi emosi mentah yang mudah berubah menjadi tekanan.

Pekerjaan Tidak Harus Selalu Passion

—- Tidak semua pekerjaan harus menjadi passion kita – Dan itu tidak apa-apa. —–

Pekerjaan bisa menjadi sarana belajar, bertumbuh, memberi dampak, dan mencari nafkah—tanpa harus selalu dicintai secara emosional. Passion boleh hadir, tetapi tidak harus mendominasi. Terkadang, justru dengan menjaga jarak dari passion, kita bisa bekerja dengan lebih dewasa, rasional, dan berkelanjutan.

Passion adalah sumber energi, bukan tujuan akhir – Ia membantu kita bergerak, tetapi tidak boleh menggantikan akal sehat, data, dan batas diri.

Karier yang sehat bukan tentang seberapa besar passion kita, melainkan tentang keseimbangan antara semangat, kemampuan, dan realitas.

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang mengikuti passion—
tetapi tentang mengelolanya agar tidak membakar kita sendiri.

Selamat memasuki tahun 2026 sahabat tercintaku! …

yudho yudhanto uns solo
yudho yudhanto kompas com
yudho yudhanto dirjen vokasi
yudho yudhantookezone
yudho yudhanto inews
yudho yudhanto tribunews

Arsip:

_____

Kategori: