Semua Yang DIINGAT Akan Hilang – Yang DITULIS Akan Abadi

kesultanan-aceh

Sejarah Tangguh Kesultanan Aceh

in Sejarah by

Belanda kalah pada agresi pertama ke Aceh dengan tewasnya panglima perang mereka, Mayor Jenderal JHR Kohler. Pada agresi kedua Belanda, Jenderal Van Swieten selaku Gubernur Militer Belanda meminta berdamai dan berharap bekerja sama dengan raja Aceh. Tapi bagi Aceh, pembicaraan perdamaian baru boleh dilakukan jika Kerajaan Belanda mencabut maklumat perang terhadap kerajaan Aceh yang diproklamirkan pada 26 Maret 1873. Belanda menolaknya dan mereka harus membayarnya dengan perang panjang selama 69 tahun (1873-1942).

Detailnya adalah :

Belanda yang sudah memproklamiran perang dengan Aceh pada 26 Maret 1873, belum bisa menembus benteng pertahanan rakyat Aceh. Pemerintah Kolonial Belanda hanya bisa membangun sebuah koloni di kawasan Peunayong. Mereka membangun bivak dan pos pertahanan di sana.
Gubernur Militer Belanda Jenderal Van Swieten berulang kali mengirim utusan kepada Sultan Aceh, meminta bekerja sama dengan Belanda. Tapi surat-surat itu selalu tak membuahkan hasil, para pengantar surat tak pernah kembali. Belanda menduga kurir mereka itu telah dibunuh sebelum mereka sampai ke pusat kerajaan Aceh.

Jenderal Van Sweiten paham betul bahwa memerangi Aceh bukanlah perkara mudah. Pada saat invansi pertama mereka sudah merasakan pukulan telak dari rakyat Aceh. Panglima Perang Belanda Jendral JHR Kohler mati ditembak sniper Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Pemerintah Hindia Belanda di Batavia juga memerintahkan semua pasukan Belanda kembali ke Batavia.

Jenderal Van Swieten tak mau bernasib sama seeperti Jendral JHR Kohler. Tapi di sisi lain ia juga harus menyelamatkan muka Pemerintah Hindia Belanda yang sudah kandung memproklamirkan perang dengan Aceh. Beban berat untuk menjalankan invansi kedua ke Aceh kali ini ada di pundak. Ia tidak ingin gagal seperti Kohler pendahulunya.

Letnan JP Shoemaker yang menyertai Van Swieten pada invansi Aceh dalam buku Tjerita-Tjerida dari Aceh yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1891 oleh penerbit G Kolff & Co, pada halaman 34 – 48 buku itu mengisahkan, Jenderal Van Swieten terus mengirim surat kepada Sultan Aceh, tapi kali ini kurir yang dipilih adalah pembantunya sendiri, seorang pria Jawa yang sudah berusia 70 tahun. Van Swieten beranggapan orang Aceh tidak akan membunuh pria tua pengantar suratnya itu.

Pada 21 Desember 1873, Belanda membangun sebuah bivak di Peunayong, tujuannya untuk menguasai hulu Krueng Aceh, sehingga kapal-kapal pengangkut komoditi rakyat Aceh tidak bisa lewat, dengan demikian para pedagang Aceh yang biasa melakukan ekspor impor barang ke semenanjung Melayu (Malaysia) akan terganggu.

Tak-tik ini dilakukan Van Swieten agar para saudagar Aceh nantinya bisa mendesak Sultan Aceh untuk bekerja sama dengan Belanda, agar blokade sungai di kawasan Peunayong itu bisa dibuka oleh Belanda, dan mereka bisa kembali melakukan ekspor impor barang ke luar negeri.

Tapi anggapan Van Swieten meleset, Raja Aceh Sultan Alaiddin Mahmudsyah kemudian memerintahkan rakyat untuk membangun benteng di seberang sungai di kawasan Peulanggahan dan Keudah. Bila kompeni Belanda membangun koloni dan benteng pertahanan di sisi timur Krueng Aceh yakni di Peunayong, Sultan Aceh membangun benteng di sisi barat di antara Keudah dan Peulanggahan. Meriam-meriam besar dibawa ke sana untuk mengempur Belanda.

Jenderal Van Swieten akhirnya ciut. Pasukan Belanda di bivak Peunayong tak bisa memperluas wilayah koloninya. Serdadu Belanda baik dari kalangan pribumi yang dibawa dari Jawa, maupun serdadu Eropa yang berjalan di luar bivak sering hilang, mayatnya tak pernah ditemukan. Letnan Schoemaker menyebutnya dengan istilah bahwa serdadu-serdadu itu sudah “ditubruk orang Aceh”.

Bila perang antar benteng rakyat Aceh dengan bivak Belanda yang hanya dipisahkan oleh sungai itu terjadi, Jenderal Van Swieten khawatir mereka tidak akan bisa memperluas wilayah koloni, dan bisa jadi koloni yang sudah dibangun di Peunayong itu akan direbut rakyat Aceh.

JP Schoemaker menceritakan, sebelumnya pada 1 September 1873, Jenderal Van Swieten sudah menulis surat untuk Raja Aceh, Sultan Alaidin Mahmudsyah. Dalam surat tersebut jendral Belanda itu mengatakan bahwa pasukan kompeni tidak bisa dilawan, karena itu Sultan Aceh diminta untuk bersahabat dengan Belanda.

Jenderal Van Swieten juga meminta Raja Aceh agar tidak mendengar nasihat dari orang-orang di sekelilingnya yang mau perang saja, tapi juga harus mempertimbangkan kepentingan ekonomi jika bersahabat dengan Belanda dan perang bisa dihindari. “Jikalau Tuan mau bersahabat, lekas kirim pesuruh (utusan) tuan untuk kita dengar kehendaknya,” tulis Jendral Van Swieten.

Selain itu kata Jenderal Van Swietan dalam suratnya, jika nanti perang terjadi juga, maka orang-orang Belanda yang ditangkap agar tidak dibunuh, tapi dipelihara dengan baik sebagai tawanan perang. Ini ditegaskan Van Swieten karena pengalaman sebelumnya, sudah banyak serdadu Belanda yang patroli di luar wilayah koloni hilang dan dibunuh orang Aceh, begitu juga dengan pengantar suratnya yang tak pernah bisa kembali kepadanya.
Namun Jenderal Van Swieten juga mengancam, kalau penyerangan dan pembunuhan terhadap serdadu-serdadu Belanda di sekitar wilayah koloni masih terjadi, maka pasukan Belanda akan membunuh penduduk Aceh pria dan wanita serta anak-anak di wilayah terjadi penyerangan itu, rumah penduduk dan kampungnya juga akan dibakar.

Awalnya surat Jenderal Van Swieten itu hendak dikirim kepada Sultan Alaiddin Mahmudsyah melalui seorang Uleebalang di wilayah XXV Mukim yang bernama Radja Moeda Setia, karena ia sudah mulai bersahabat dengan Belanda. Tapi uleebalang itu tidak berani, ia takut akan dibunuh, nasibnya akan sama dengan pengantar surat sebelumnya.

Katanya, sejak Belanda memproklamirkan perang kepada Kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, tak ada lagi kompromi bagi rakyat Aceh, selain berperang total, kalau Belanda mau bersahabat dengan Kerajaan Aceh dengan posisi yang setara, antara Kerajaan Belada dengan Kerajaan Aceh, maka Pemerintah Kerajaan Belanda harus mencabut maklumat perang itu dulu, baru urusan lainnya bisa diselesaikan di meja perundingan, karena itulah surat-surat Jenderal Van Swieten itu tidak pernah dijawab oleh Sultan Alaiddin Mahmudsyah.

Kemudian perwira Belanda bernama Kapten Vervloet mengajukan diri kepada Jendral Van Swieten untuk menjadi kurir pengantar surat itu kepada raja Aceh, tapi Van Swieten menolak, mungkin ia tak mau perwiranya itu mati di tangan orang Aceh. Ia kemudian mengorbankan seorang pembantunya untuk tugas tersebut.
Pembantu Jenderal Van Swieten itu merupakan pria Jawa yang sudah berusia 70 tahun, namanya Mas Soema Widikdjo. Kakek ini sudah lama mengikuti Jendral Van Swieten di berbagai daerah, seperti di Bali, Bone, dan kini di Aceh.

Menurut Letnan JP Shoemaker pria Jawa itu sudah berpengalaman menjadi kurir pengantar surat Jendral Van Swieten di mana saja ia bertugas. “Dan lagi sebab ia Islam juga, kulitnya hitam, kiranya tuan jenderal orang Aceh barang kali tidak begitu benci, seperti benci mereka kepada orang kulit putih Belanda,” tulis Letnan JP Shoemaker.

Pada tanggal 22 Desember 1873, Mas Soema Widikdjo pergi membawa surat Jenderal Van Swieten untuk Sultan Alaiddin Mahmudsyah. Saat mengantar surat itu ia didampingi oleh seorang Melayu bernama Ma-Asrah dan tiga orang Jawa bernama Mas Kerto Soediro, Soeroe Melangi dan Raden Toegoh. Sebagai penunjuk jalan mereka meminta bantuan seorang penduduk etnis Tionghoa di Peunayong.

Namun nasib Mas Soema Widikdjo dan rekannya itu juga sama dengan kurir pengantar surat sebelumnya, dibunuh sebelum sampai menghadap raja Aceh untuk menyerahkan surat itu. Seorang mata-mata yang mengikuti perjalanan para kurir pengantar surat itu bercerita kepada Jendral Van Swieten bahwa Mas Soema Widikdjo dan kawan-kawannya disiksa dengan sadis sebelum dibunuh.

Mendengar itu darah Jenderal Van Swieten mendidih, hal seperti itu belum pernah dialaminya di tempat mana pun. Tapi ia juga sadar untuk segera memerangi Aceh juga bukan perkara mudah. Bila di daerah lain perlawanan terhadap Belanda dilakukan dengan senjata tradisional, lain dengan Aceh yang kala itu sudah memiliki persenjataan modern yang mampu mengimbangi alat-alat senjata Belanda.

Meriam-meriam besar asal Turki di benteng rakyat Aceh di Peulanggahan yang mocongnya diarahkan ke bivak Belanda di Peunayong cukup memberi jawaban bagi Jenderal Van Swieten bahwa ia kini benar-benar sedang menghadap bangsa yang tidak kenal kompromi dengan lawan.

Kegagalan Belanda di Aceh kemudian dipertanyaan dalam sidang parlemen Belanda pada 15 Mei 1877. Menteri Urusan Koloni, Belanda memberikan jawaban atas interpelasi yang menyoalkan kegagalan Belanda itu.

Katanya: “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte.”
Artinya: “Kita telah menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan.

Penulis : Iskandar Norman.
Sumber: The Dutch Colonial War In Aceh

May be an image of 12 people, child, people standing and outdoors
Keluarga Panglima Polim
May be an image of 5 people and people standing
Keluarga Teuku Umar dan Marsose

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest from Sejarah

Go to Top