Kota Solo selalu tampak tenang dari jauh: alun-alun yang teduh, keraton yang menahan waktu, dan deretan pohon yang membatasi jalan utama. Namun pada pagi itu, 7 Agustus 1949 kota yang biasa menenun batik dan menyelenggarakan upacara adat berubah menjadi panggung tegang yang dipenuhi langkah kaki para pejuang, deru kendaraan berkawat baja, dan asap yang menggumpal di langit pagi. Apa yang dimulai sebagai rencana yang dibentuk dalam rapat malam hari di hutan-hutan sekitar sekarang berubah menjadi empat hari yang menentukan harga diri republik. [1]
(more…) | 5 month ago / Sejarah