Semua Yang DIINGAT Akan Hilang – Yang DITULIS Akan Abadi

web versi 5

Pengendali Data di Web 5.0

in Pendidikan/Teknologi by

Minggir Web 3, Jack Dorsey Sudah Ingin Web 5. Istilah Web 3.0 yang mulai sering terdengar selama beberapa waktu terakhir, dan dianggap menjadi cetak biru versi terbaru internet, masih berada dalam tahap awal. Namun, hal itu tidak menghentikan mantan CEO Twitter dan CEO Block saat ini, Jack Dorsey, untuk melompat ke depan dan mengumumkan rencana membangun platform internet terdesentralisasi yang benar-benar baru.

Ia menganggap platform Web 3.0 telah mati, melewati angka ”4”, dan langsung mengumumkan untuk membuat platform internet terdesentralisasi terbaru yang dinamainya Web 5.0. ”Ini akan menjadi kontribusi terpenting kami pada internet. Bangga dengan tim. #web5 (RIP web3 VCs),” demikian cuitan Dorsey di Twitter saat mengumumkan platform Web 5.0, 11 Juni lalu. Masalah pendiri Twitter ini dengan kondisi internet memang telah lama berlangsung.

Beberapa waktu lalu, ia menyatakan menyesal dengan perannya dalam membuat kondisi internet menjadi seperti sekarang ini. ”Hari-hari usenet, irc, web… bahkan e-mail (w PGP)…sungguh luar biasa. Memusatkan penemuan dan identitas ke dalam sebuah perusahaan benar-benar merusak internet. Saya sadar saya sebagian yang harus disalahkan dan menyesalinya,” kata Dorsey dalam cuitan 3 April 2022

Sesal Dorsey itu terkait peran yang dimainkan Twitter dalam menciptakan internet yang terpusat saat ini. Maksudnya, kondisi internet sekarang di mana segelintir perusahaan dan platform mendominasi dan menguasai sebagian besar pengguna, termasuk data mereka yang sangat besar.

Dengan sekitar 217 juta pengguna harian, Twitter tentu memenuhi syarat sebagai salah satu platform tersebut, bersama dengan raksasa teknologi lain nya seperti Meta (Facebook), Alphabet, dan Amazon. Menurut StatCounter, Google milik Alphabet menguasai lebih dari 90 persen pasar pencarian daring. Sementara penelitian dari eMarketer menemukan bahwa sekitar 64 persen dari semua belanja iklan digital masuk ke Amazon, Facebook, dan Google.

Jack Dorsey, Sundar Pichai, dan Mark Zuckerberg (dari kiri ke kanan) adalah CEO raksasa media sosial Twitter, Google, dan Facebook yang menghadapi tantangan baru oleh Kongres AS, Kamis, 25 Maret 2021. Kongres menanyakan upaya mereka untuk mencegah platform mereka menyebarkan kebohongan.

Banyak dari kita beralih ke Twitter ketika ingin mengikuti sebuah peristiwa yang sedang berlangsung, sedekat mungkin dengan waktu nyata. Namun, perusahaan-perusahaan media sosial, seperti Twitter, kewalahan atau kadang terlambat memerangi informasi yang salah, yang pada akhirnya sangat merusak jalinan sosial kita.

Dikutip dari CNBC, Dorsey pernah mengatakan bahwa dia menyesal tidak memiliki rencana, ketika pertumbuhan Twitter dapat mempegaruhi cara orang menggunakan internet dan berbagi informasi secara daring. Perusahaan ini didirikan, sebagian, sebagai cara untuk ”mendesentralisasi” sumber informasi daring dengan memungkinkan lebih banyak orang untuk terhubung dan berbagi unggahan.

Web Evolution from 1.0 to 3.0. World Wide Web is the primary tool used… |  by Vivek Madurai | Medium
Web Evolution from 1.0 to 3.0

Melalui unggahan itu, Dorsey merindukan hari-hari awal internet ketika protokol, seperti IRC, membuat internet tampak seperti tempat di mana tercipta kemungkinan yang tak terbatas. Ia merujuk beberapa elemen nostalgia dari masa awal internet, yaitu papan buletin publik online dan jaringan diskusi Usenet, platform obrolan berbasis teks Internet Relay Chat (IRC), dan surel yang dienkripsi dengan perangkat lunak Pretty Good Privacy (PGP).

Mengejutkan Cuitan Dorsey adalah pengakuan mengejutkan seorang eksekutif perusahaan teknologi yang menghasilkan miliaran dollar dengan menciptakan platform yang memusatkan cara manusia mengonsumsi informasi. Pengaruh Twitter terhadap cara orang mengonsumsi informasi memang tidak dapat disangkal.

Ini bukan pertama kalinya Dorsey merasa kecewa dengan kondisi internet. Tahun lalu, diakun Twitter-nya, ia juga pernah mengkritik perkembangan Web3, sebuah inovasi untuk mendesentralisasi internet, yang dianggap menjadi solusi dari penyesalanDorsey atas terpusatnya internet saat ini.

Dorsey mengolok-olok perkembangan Web 3.0 yang melenceng. Ia menilai kelahiran Web 3.0 yang akan mengembalikan kunci internet kepada pengguna, telah dibajak korporasi. Keberadaan korporasi itu hanya untuk menggantikan penguasa Web 2.0 saat ini, Google, Facebook, Twitter, dan sebagainya dengan korporasi baru.

Apa itu Web 3.0 ?

Sebelum generasi ketiga, tentu ada Web 1.0 dan Web 2.0

Dalam sejarahnya, Web 1.0 secara tradisional mengacu pada pengalaman menggunakan internet pada era 1990-an dan awal 2000-an. Menurut The New York Times, era itu ditandai dengan blog dan papan pesan, dan portal awal seperti AOL dan CompuServe. Orang mengonsumsi internet dari konten-konten yang disediakan perusahaan dengan membaca web statis secara pasif, yang sebagian besar dibuat menggunakan ”protokol terbuka”, seperti HTTP, SMTP, dan FTP.

Sementara Web 2.0 adalah fase lanjut internet berikutnya, dimulai sekitar tahun 2005, dengan kehadiran media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan Youtube yang kemudian berkembang menjadi raksasa teknologi. Era ini ditandai dengan orang-orang yang mulai membuat dan mengunggah konten mereka sendiri, dan kemudian secara aktif berpartisipasi di internet.

Meskipun terlihat kontennya terdesentralisasi, pada kenyataannya aktivitas orang itu terpusat atau tersentralisasi di segelintir perusahaan, yang mendistribusikan konten dan kemudian memonetasinya, dan menguasai uangnya untuk mereka sendiri. Inilah yang disesali Dorsey dan karena itu, ia merasa bersalah.

What's The Difference Between Web 1.0, Web 2.0, And Web 3.0?
Web 1.0 vs Web 2.0 vs Web 3.0

Komunitas Web3 akan menggantikan platform korporat yang terpusat ini dengan protokol terbuka dan jaringan terdesentralisasi yang dijalankan komunitas, menggabungkan infrastruktur terbuka Web 1.0 dengan partisipasi publik Web 2.0, berbasis blockchain atau rantai blok.

”Jika era pra-internet/ Web 1.0 menguntungkan penerbit, era Web 2.0 menguntungkan platform, inovasi generasi berikutnya secara kolektif dikenal sebagai Web 3.0 segalanya tentang mengembalikan kekuasaan dan kepemilikankontenkepada pencipta danpengguna,” demikian investor kripto Li Jin dan penulis Katie Parrott  menggambarkan Web 3.0, dikutip dari The New York Times.

5 Main Features to Help Identify a Web 3.0 Definition | Expert.ai |  Expert.ai
Web evolution

Saat ini, contohnya, Facebook menghasilkan uang dengan menggabungkan data pengguna dan menjual iklan bertarget. Versi Web 3.0 Facebook dapat memungkinkan pengguna untuk memonetisasi data mereka sendiri, atau bahkan mendapatkan ”tips” kripto dari pengguna lain untuk mengunggah konten yang menarik. Lebih jauh lagi, premis dasar Web 3.0 adalah bahwa setiap konten secara bersamaan merupakan peluang investasi.

Selain gerakan untuk mendesentralisasi internet, ada juga dorongan besar untuk mendesentralisasi keuangan (DeFI), yang ditandai dengan kelahiran kriptokurensi. Untuk mengurangi sentralisasi internet itu, Dorsey pada Desember 2019 mengumumkan sebuah proyek bernama Bluesky, yang bertugas mengembangkan ”standar terbuka dan terdesentralisasi untuk media sosial”. ”Standar ini di antaranya akan memungkinkan pengguna platform media sosial yang berbeda untuk saling berkomunikasi, dan dapat mempermudah penegakan aturan terhadap ujaran kebencian dan penyalahgunaan lainnya.

Namun, Dorsey tampaknya kecewa dengan platform Web 3.0 yang, menurut dia, sudah dibajak oleh korporasi tertentu.

Solusinya, ia menawarkan Web 5.0, yang semangatnya sebenarnya mirip dengan Web 3.0, yaitu mendesentralisasi internet sehingga tidak terpusat pada beberapa korporasi saja, sekaligus mengembalikan kepemilikan dan kendali atas identitas dan data kepada setiap individu.

Apakah gerakan mengembalikan kekuasaan konten dan data kepada pengguna internet melawan korporasi raksasa itu akan berhasil?

Kompas, 22.07.2022 (Prasetyo Eko P)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest from Pendidikan

Go to Top